Melakukan A/B Testing Pada Website

Posted on Posted in Uncategorized

A/B testing adalah eksperimen yang menguji perubahan conversion rate antara beberapa variasi dalam website. Sebagai contoh, kamu dapat mengubah isi dari text boxdalam sebuah website, mengganti gambar dalam website, atau memotong sebuah halaman menjadi setengahnya.

Variasi desain ini nantinya akan digunakan untuk melihat apakah setiap perubahan desain memang membawa peningkatan (atau pengurangan) terhadap conversion rate(seperti perubahan jumlah signup, pembelian, dll.)

A/B testing sangatlah penting.

Tidak peduli berapa banyak waktu yang telah kamu habiskan untuk membuat sebuah website, saya bisa menjamin, bahwa iterasi pertama tidak akan memiliki kinerja sebaik iterasi yang telah melalui beberapa tes A/B. Proses ini bukanlah sekadar bagian waktu untuk merapikan website kamu; upaya ini adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan kualitas halaman dalam sebuah situs web.

Apabila kamu menjalankan A/B testing dengan baik dan benar, upaya ini akan secara signifikan meningkatkan conversion rate pada website kamu secara otomatis. Ini adalah cara termudah dan termurah untuk meningkatkan standar dari website yang kamu miliki.


Bagaimana cara tes A/B bekerja

Secara umum, berikut ini adalah siklus dari A/B testing:

  • Memutuskan apa yang ingin kamu ubah
  • Menggunakan tool A/B testing otomatis untuk melakukan implementasi perubahan secara visual.
  • Menggunakan perubahan tersebut selama rentang waktu tertentu agar kita mendapatkan sejumlah angka pengunjung sebagai sampel.
  • Tool A/B testing akan menyajikan dua variasi halaman web kepada pengunjung yang berkunjung pada rentang waktu yang sama (tool ini tidak menguji variasi secara bergantian.)
  • Ketika data yang dikumpulkan telah dirasa cukup, tool A/B testing akan melaporkan apakah terdapat perubahan yang signifikan dari conversion rate di tiap halaman web. Apabila terdapat perubahan, giliranmu memutuskan untuk mengubah kode atau desain original dari sebuah halaman web menjadi yang kode dan desain yang telah melalui A/B testing atau tidak.
  • Ulangi seluruh langkah di atas hingga kamu atau perusahaanmu bangkrut — atau diakuisisi.

Terdapat tiga tool A/B testing yang umum digunakan: Optimizely, VWO, dan Google Optimize. Tool yang terakhir ini gratis, memiliki fitur penuh, dan terintegrasi dengan Google Analytics. Saya merekomendasikan tool ini.

Mengumpulkan ide untuk pengujian A/B

Kamu dapat mengumpulkan ide untuk melakukan A/B testing dari beberapa sumber berikut:

  • Staf support dan sales: Merekalah garda terdepan dari perusahaan dalam menghadapi konsumen, jadi sudah dapat dipastikan mereka memiliki berbagai gagasan menarik dari para pengunjung tentang apa yang ingin mereka lihat pada website kamu.
  • Survei pengguna: Atau bahkan kamu dapat menanyakan langsung kepada pengguna. Perlu diperhatikan bahwa terkadang ada pengguna yang bahkan tidak tahu apa yang mereka inginkan, atau mereka mungkin tidak dapat menyampaikannya. Jangan takut untuk membaca jawaban yang tersirat, karena mungkin saja itu yang pengguna inginkan.
  • Iklan yang terbaik: Iklan dengan kinerja terbaik mungkin memiliki copy dan gambar yang dapat diimplementasikan pada halaman web kamu. Faktanya, kamu juga dapat melakukan pengujian A/B pada iklan yang kamu pasang untuk menemukan copy yang paling menarik pengguna.
  • Hasil A/B testing sebelumnya: Hasil pengujian sebelumnya juga dapat menjadi ide untuk pengujian berikutnya. Kamu harus melihat kembali laporan pengujian sebelumnya ini untuk beberapa pelajaran yang dapat diterapkan pada pengujian selanjutnya.

Protip: Apabila kamu menjalankan sebuah survei untuk memahami pengguna sebelum menjalankan A/B testing, lakukan survei pada poin dimana para pengguna paling banyak berinvestasi di perusahaanmu. Karena pada poin inilah mereka lebih cenderung untuk merespon. Sebagai contoh, setelah pengguna melakukan pembelian di situs web kamu, tampilkan tiga pertanyaan yang singkat namun padat pada halaman web setelah mereka melakukan checkout.

Apabila kamu tidak memiliki data yang cukup dari beberapa sumber di atas, kamu dapat memulai untuk bertanya ke diri sendiri, “Apakah yang mau dilihat oleh para pengguna pada halaman web yang saya buat?” Dari pertanyaan tersebut akan muncul berbagai pertanyaan lain yang dapat kamu gunakan sebagai bahan untuk A/B testing.

A/B testing dan kaitannya dengan peluang growth

Sebelum kita mengetahui apa saja yang akan kita ujikan, sebelumnya kita harus mengerti tujuan dari pengujian ini.

Perhatikan hal berikut: Apabila kamu menemukan sebuah variasi A/B yang berhasil memotivasi pengguna untuk mengklik sebuah tombol sepuluh kali lebih banyak, tetapi perilaku ini tidak menghasilkan angka signup atau konversi lainnya, ini berarti variasi tersebut tidak ada ubahnya dengan bentuk aslinya.

Dengan variasi tersebut yang hanya kamu lakukan adalah mengalihkan perhatian pengguna.

Jadi kamu harus memperhatikan hasil perubahan secara keseluruhan ketika sedang melihat hasil dari tes A/B. Ketika perubahan variasi A/B mempengaruhi angka pendapatanmu lebih banyak ketimbang angka engagement pengguna, di situlah sebuah variasi baru dapat dikatakan berhasil.

Kesimpulannya, ketika tujuan utama dari A/B testing adalah untuk meningkatkan konversi dari awal pengguna mengakses website hingga akhir, adalah hal yang lumrah untuk melakukan lebih banyak pengujian pada langkah awal dimulainya seluruh proses. Ada dua alasan untuk mendukung asumsi tersebut:

  • Ukuran sampel: Langkah awal proses pada corong growth akan menerima volume trafficyang lebih besar. Akan lebih banyak orang yang mengunjungi halaman depan website kamu dibandingkan dengan mereka yang benar-benar berinteraksi dengan fitur-fitur yang ada di website kamu.  Hal ini penting karena kita membutuhkan jumlah traffic yang cukup untuk menjalankan tes A/B. Jika tidak, tes yang akan dijalankan akan memakan waktu lebih banyak serta kita akan kekurangan backlog dari ide-ide yang pernah diujikan.
  • Implementasi: Mengubah copy atau gambar pada landing page membutuhkan lebih sedikit upaya ketimbang mengubah kode yang ada pada produk yang kamu buat. Perubahan pada produk, walaupun dalam prosesnya lebih cenderung untuk meningkatkan pendapatanmu, juga harus dihitung secara seksama ketika sedang diimplementasikan. Perubahan ini juga dapat menyebabkan hadirnya bug, membingungkan pengguna lama, dan menambah waktu pengembangan fitur yang ada.

Agar tidak terlalu panjang, artikel kali ini hanya berfokus kepada pengujian A/B pada landing page. Selain itu, pengujian A/B pada produk akan memakan waktu yang lebih banyak serta pemahaman yang lebih mendalam tentang pengembangan produk (product development), UI, dan UX.

Apa saja yang akan diujikan pada landing page?

Untuk landing page atau halaman manapun, kamu akan menjalankan pengujian variasi mikro dan makro. Variasi mikro adalah penyesuaian terhadap copy, elemen kreatif, dan struktur halaman. Variasi makro adalah restrukturisasi besar atau bahkan membuat ulang halaman yang telah kamu buat sebelumnya.

Variasi mikro

Berikut ini adalah beberapa ide untuk melakukan variasi mikro sebagai acuanmu untuk memulai:

  • Copy: Teks pada headersubheaderfeature header, paragraf feature, dst.
  • Gambar: Gambar header, gambar pada konten, gambar latar, dst.
  • Call to Action: Desain tombol CTA, penempatan, copy untuk CTA, dst.
  • Social proof: Mencoba logo perusahaan yang berbeda, mencoba fitur yang berbeda, dst.
  • Form: Jumlah kotak isian, layout dari kotak isian, dan copy untuk kotak isian.
  • Urutan: Urutan dari bagian-bagian yang ada dalam sebuah halaman.
  • Desain: Spasi, warna, dan gaya font yang digunakan.
  • Diskon: Memanfaatkan berbagai diskon yang berbatas waktu.

Variasi mikro terkadang menghasilkan angka konversi yang cukup besar. Tetapi seringkali tidak. Mengubah warna dari sebuah tombol atau mengubah ukurannya menjadi lebih besar biasanya tidak akan membawa dampak yang signifikan dari segi konversi. Walau begitu, ada pengecualian ketika variasi mikro membawa dampak yang besar.

Sebagai contoh: Ketika kamu menulis ulang copy untuk header atau subheader. Teks yang ada pada bagian header biasanya akan menjadi pesan utamamu untuk menarik perhatian pengguna. Apabila kamu selama ini belum berhasil menarik perhatian mereka lewat copy pada bagian header, mungkin kamu perlu mencoba untuk mengubahnya dan melihat hasilnya.

Variasi makro

Variasi makro, sebaliknya, memiliki dampak konversi yang lebih terlihat. Walau begitu, upaya ini membutuhkan lebih banyak pikiran dan tenaga. Kamu mungkin akan dipaksa untuk kembali ke meja gambar untuk membuat kembali sebuah halaman web yang baru — dengan desain baru, elemen-elemen baru, serta teks baru.

Akan sangat sulit untuk mengumpulkan fokus dan kolaborasi tim yang dibutuhkan untuk melakukan upaya ini. Inilah mengapa variasi makro jarang dilakukan.

Akan tetapi, variasi makro adalah sebuah kebutuhan untuk membuat sebuah halaman menjadi sesuai dengan yang diharapkan oleh pengguna. Untuk menginspirasimu, berikut adalah beberapa sumber ide yang dapat kamu gunakan untuk melakukan variasi makro:

  • Inspirasi dari website kompetitor: Temukan kompetitor yang menurutmu terlihat berkembang dengan pesat dari sisi bisnis dan memiliki gaya penyajian konten yang terbilang baik. Tiru gaya penyajian mereka dengan nuansa yang kamu miliki. Pro tip: Jangan mencuri aset kreatif yang telah mereka buat apabila kamu memutuskan untuk meniru gaya kompetitor. Ingat, meniru bukan berarti mencurry.
  • Gunakan persona yang sesuai dengan target audiens kamu: Sesuaikan seluruh elemen dan gaya penyampaian pesan dengan tipe audiens yang kamu bidik. Sebagai contoh: Jika sebagian besar pengunjung website kamu berasal dari kalangan anak muda, gunakanlah gaya penulisan selayaknya anak muda yang segar dan dinamis. Bisa saja kamu menggunakan persona yang salah ketika menghadapi audiens yang paling potensial.

Bagaimana cara memprioritaskan tes A/B

Setiap tes A/B memiliki “harga yang harus dibayar” pada setiap percobaannya; kamu hanya memiliki segelintir pengunjung yang dapat kamu tes dalam kurun waktu tertentu. Jadi prioritaskan tes secara pantas — jangan serta merta memberondong pengunjung dengan tes tersebut. Untuk memprioritaskan tes secara sistematis, kamu dapat mempertimbangkan kelima faktor berikut:

  • Kepercayaan diri: Seberapa yakinkah kamu bahwa tes tersebut akan berhasil? Kamu dapat meningkatkan kepercayaan diri dengan memahami pengguna lebih baik: lakukan survei terhadap mereka, pantau perilaku mereka ketika sedang ada di website, dan pelajari hasil pengujian A/B di masa lalu.
  • Dampak: Apabila tes tersebut berhasil, apakah hasilnya akan cenderung meningkatkan konversi? Apabila kamu memulai dengan halaman yang belum dioptimalisasi atau melakukan variasi makro yang lebih banyak, dampak yang dihasilkan tentu akan lebih besar.
  • Implementasi: Seberapa mudah implementasinya? Apakah implementasi tersebut akan menghabiskan sumber daya atau justru akan membuat segalanya menjadi rumit? Jika ya, jalankan tes yang lebih kamu yakini untuk menghadirkan dampak yang lebih besar serta lebih mudah untuk diimplementasikan. Kemudian gunakan hasil pengujian tersebut untuk mengeksekusi tes selanjutnya yang memiliki biaya implementasi yang lebih besar.
  • Keunikan: Apakah tes baru yang akan kamu lakukan adalah variasi dari tes sebelumnya yang gagal menghasilkan konversi? Sebagai contoh, apakah kamu mengubah warna dari sebuah tombol pada bagian akhir halaman setelah upayamu mengubah warna tombol pada bagian atas halaman telah gagal? Sekali lagi, jadikan hasil pengujian sebelumnya sebagai bahan pembelajaran sebelum kembali melakukan tes.
  • Konsistensi brand: Terkadang sebuah deskripsi produk yang agresif memiliki potensi untuk meningkatkan angka konversi. Tetapi bagaimana jika perusahaanmu bergerak di bidang penyediaan jasa rumah duka, yang biasanya melakukan pendekatan marketing yang lebih pasif dan berkelas? Kamu tidak mungkin menjual jasa rumah duka secara persuasif layaknya kamu menjual produk atau jasa lainnya. Mempertaruhkan citra sebuah brand demi melakukan terobosan marketing rasa-rasanya bukan langkah yang tepat dan sebanding dengan risiko yang ditimbulkan.

Menyiapkan tes A/B

Ketika kamu menjalankan tes A/B dengan tool pilihanmu (Lagi-lagi, saya merekomendasikan Google Optimize), kamu mungkin ingin menerapkan kedua detail implementasi berikut ini.

Paralel vs berurutan

Selalu jalankan tes A/B secara paralel — ini berarti, halaman asli dan variasinya harus berjalan secara bersamaan. (Tool A/B akan mengalokasikan pengunjung secara acak kepada masing-masing versi halaman.) Apabila kamu menjalankan tes secara berurutan, sumber traffic dari pengunjung dan waktu mereka berkunjung tidak dapat dikendalikan. Ini akan membuat hasil pengujian menjadi sia-sia.

Batasan perujuk

Apabila seorang pengunjung membaca blog kamu sebelum mengunjungi halaman utama website kemudian mendaftarkan diri mereka, mungkin saja mereka telah mengenal pasar atau produkmu secara spesifik dibandingkan pengguna yang datang ke website kamu langsung dari Google. Sebagai hasilnya, tipe pengguna ini mungkin akan merespon dengan sangat berbeda terhadap copy yang ada pada halaman utama website kamu.

Oleh karena itu, apabila kamu memiliki jalur navigasi umum pada website yang menurutmu dapat mempengaruhi konversi secara signifikan, atur tes A/B untuk hanya dapat berjalan apabila pengguna datang dari perujuk (referral) yang spesifik (seperti halaman produk) atau tidak sama sekali (seperti pengguna yang datang langsung ke website kamu).

Ketika kamu mengetahui dari mana mereka datang, kamu dapat memoles kembali copyyang telah kamu buat agar cocok dengan preferensi mereka.

Senada dengan hal tersebut, apabila kamu memiliki sumber traffic pihak ketiga — seperti blog yang secara rutin mengulas perusahaanmu — kamu dapat mempertimbangkan untuk mengatur tes A/B yang khusus untuk sumber-sumber ini. Tool A/B testing yang kamu miliki akan memungkinkanmu untuk mengatur batasan perujuk tersebut.

Menguji hasil tes A/B

Kini kamu telah mengerti apa dan bagaimana untuk melakukan tes, tetapi bagaimana kamu dapat menguji hasil tes tersebut? Kamu harus memperhatikan ketiga hal berikut:

  • Kamu telah berhasil memperoleh jumlah sampel yang dibutuhkan.
  • Performa pada akhir corong growth.
  • Alasan mengapa tes yang kamu lakukan berhasil atau gagal.

Ukuran sampel

Mengacu kepada prinsip statistik, kita membutuhkan sejumlah besar sampel untuk secara yakin mengukur peningkatan konversi:

  • Perlu validasi secara statistik peningkatan konversi sebesar dua puluh persen, kita membutuhkan paling tidak seratus pengunjung.
  • Untuk memvalidasi peningkatan sebanyak 6,3 persen, kita membutuhkan sedikitnya seribu pengunjung.
  • Untuk memvalidasi peningkatan sebanyak dua persen, kita membutuhkan sedikitnya seribu pengunjung.

Karena itu, apabila kamu memiliki traffic yang tidak begitu besar, kamu disarankan untuk melakukan variasi makro — karena variasi tersebut memiliki potensi untuk menghasilkan peningkatan sebesar sepuluh sampai dua puluh persen. Jika tidak, kamu akan menghabiskan waktu terlalu lama apabila memaksakan diri untuk melakukan pengujian mikro.

Sebaliknya, apabila kamu memiliki traffic yang tinggi, kamu dapat melakukan berbagai variasi mikro untuk mengoptimalisasi halaman web secara sempurna.

Performa optimal pada akhir proses

Peningkatan nilai konversi pada pengguna yang melakukan pendaftaran adalah hal yang baik, tetapi peningkatan jumlah pengguna yang membeli produkmu adalah yang terpenting. Dengan kata lain, landing page yang ada pada website kamu berhasil memancing pengunjung untuk mendaftarkan diri mereka ke dalam website, tetapi kurang berhasil untuk mengajak konsumen sesungguhnya untuk mendaftarkan diri mereka.

Setiap variasi dari tes yang kamu jalankan dapat menanamkan beberapa harapan ke dalam pikiran pengguna yang akan berdampak kepada perilaku mereka ketika sedang menjalankan proses.

Jadi ujilah variasi dari landing page mana yang berhasil menghasilkan performa yang optimal pada akhir proses. Tool analytics yang kamu gunakan, seperti Google Analytics, akan secara otomatis melacak halaman di mana pengguna pertama kali mengakses situs kamu. Jadi kamu akan sedikit terbantu untuk mengaitkan konversi yang terjadi pada seluruh proses dengan tes A/B yang dilakukan terhadap mereka.

Alasan mengapa tes yang kamu lakukan berhasil atau gagal

Ketika kamu berhasil menemukan variasi yang berhasil meningkatkan pendapatanmu, cobalah untuk mengidentifikasi mengapa variasi itu dapat bekerja. Anggaplah bagaimana peningkatan pendapatan tersebut hanyalah satu dari beberapa manfaat dari sebuah tes A/B. Lainnya adalah meningkatkan efisiensi kerja di masa depan dengan tes yang lebih baik.

 adi, pada akhir dari setiap tes A/B, lakukan diskusi dengan tim untuk menentukan mana asumsi yang benar dan mana yang salah. Kemudian lakukan tes selanjutnya yang didesain secara khusus untuk melakukan verifikasi dari asumsi tersebut.

Pos Terkait :

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *